Pertemuan ke-111
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝
🌏 https://grupislamsunnah.com
👤 Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A. حفظه الله تعالى
📚 Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir Sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani Rahimahullah
💽 Audio ke-106: Pembahasan Tentang Sujud 08 ~ Macam Bacaan Dzikir dalam Sujud Bag 03
═════════════════
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ
Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syekh Al-Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir Sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).
(Kita sampai pada, -ed) pembahasan masalah dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika sujud.
Dzikir-dzikir yang dibaca ketika sujud ini sangat banyak. Di antara bacaan tersebut:
2) Bacaan yang kedua di dalam sujudnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah bacaan:
❲ سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ ❳
/Subhaana robbiyal a'laa wa bihamdih/ dibaca 3x
"Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi, dan dengan pujian untuk-Nya"
(HR. Abu Daud no. 870)
Tambahan [ وَبِحَمْدِهِ ] ini diperselisihkan oleh para ulama.
Ada yang mengatakan tambahan tersebut lemah; ada yang mengatakan sebagaimana dipilih oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta'ala, beliau mengatakan tambahan ini sahih. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Addaruqutni, Imam Ahmad, Imam Ath-Thabrani, dan Imam Al-Baihaqi. Beliau katakan ini sahih.
3) Bacaan yang ketiga di dalam sujudnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:
❲ سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ ❳
/Subbuuhun, qudduusun, robbul malaa-ikati war-ruuh/
"Maha suci lagi Maha Kudus, Rabb para malaikat (secara umum) dan Ar-ruh (malaikat Jibril secara khusus)"
(HR. Muslim 1/533, lihat no. 35)
Apa bedanya [ سُبُّوْحٌ ] dan [ قُدُّوْسٌ ] ? Disebutkan di dalam catatan kakinya, sebelumnya telah disinggung bahwa makna [ سُبُّوْحٌ ] adalah yang disucikan dari segala keburukan, sedangkan [ قُدُّوْسٌ ] adalah yang penuh dengan keberkahan.
Berarti terjemahannya
[ سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ ]
maksudnya adalah Maha Suci dan Maha Berkah.
[ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ ]
Rabbnya para malaikat, dan Rabbnya Malaikat Jibril.
Ini berarti dibaca hanya sekali. Atau kalau kita ingin mengulang-ulangnya tidak masalah, tidak ada batasan, sehingga hukumnya kembali ke asal. Kembali ke asal maksudnya tidak ada batasan. Kalau ada batasan baru kita batasi, Kalau tidak ada batasan berarti kita boleh membaca sesuai dengan keinginan kita.
4) Bacaan yang keempat:
❲ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ❳
/Subhaanakallaahumma robbanaa wa bihamdika, allaahummagh-fir lii/
وَكان يُكثِرُ مِنْهُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: ،يَتَأَوَّلُ القُرْآنَ .
Dan dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak bacaan ini di rukuknya dan di sujudnya sebagai bentuk penafsiran atau pelaksanaan Beliau terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat An-Nashr:
{ اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰهِ وَالۡفَتۡحُۙ , وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَدۡخُلُوۡنَ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا , فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَاسۡتَغۡفِرۡهُ ؔؕ }
Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu.
❲ وَاسۡتَغۡفِرۡهُ ❳
Dan minta ampunlah engkau kepada Dia.
Jadi ada tasbihnya, ada istighfarnya.
❲ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ❳
Di situ ada tasbihnya, di situ ada permintaan untuk diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala .
"Maha Suci Engkau ya Allah, ya Rabb kami, dan segala puji bagi-Mu, ya Allah ampunilah aku"
(HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)
Thayyib.
Ini pun tidak ada jumlahnya berapa, sehingga kalau kita baca sekali sudah masuk hadits ini. Kalau kita ingin membaca 3 kali juga tidak masalah. Kita baca 5 kali, 10 kali tidak ada masalah, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak membatasinya.
Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa.
InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
══════ ∴ |GiS| ∴ ══════
========================================
Pertemuan ke-112
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝
🌏 https://grupislamsunnah.com
👤 Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A. حفظه الله تعالى
📚 Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir Sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani Rahimahullah
💽 Audio ke-107: Pembahasan Tentang Sujud 09 ~ Macam Bacaan Dzikir dalam Sujud Bag 04
═════════════════
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ
Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syekh Al-Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir Sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).
(Kita sampai pada, -ed) pembahasan masalah dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika sujud.
Dzikir-dzikir yang dibaca ketika sujud ini sangat banyak.
5) Bacaan sujud yang kelima yang shahih dari Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah:
❲ اَللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، [ وَأَنْتَ رَبِّي] ، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَ صَوَّرَهُ، [ فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ ] ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، [ فَـ ] تَبَارَكَ اللّٰهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ ❳
Allaahumma laka sajadtu, wa bika aamantu, wa laka aslamtu, (wa anta robbii), sajada wajhiya lilladzii kholaqohu wa showwarohu, (fa-ahsana shuwarohu), wa syaqqo sam'ahu wa bashorohu, fa tabaarokallaahu ahsanul khooliqiin.
Ini bacaan yang lumayan panjang.
"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku bersujud, aku beriman kepada-Mu, berserah diri kepada-Mu, Engkaulah Rabbku. Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakan dan membentuknya, lalu membaguskan bentuknya, yang membuka pendengaran dan penglihatannya. Maka Maha Suci Engkau ya Allah sebaik-baik Pencipta."
Ini juga tidak ada batasan berapa kali. Berarti bisa kita baca sekali, bisa kita baca lebih dari itu. Apalagi kalau kita ingin memperlama sujud kita.
6) Kemudian bacaan yang keenam:
❲ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ ، دِقَّهُ وجِلَّهُ ، وأَوَّلَهُ وآخِرَهُ ، وعَلَا نِيَتَهُ وسِرَّهُ ❳
Ini juga tanpa ada batasan bilangan. Bisa sekali, bisa lebih dari itu.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah semua dosaku, dosa yang kecil (atau tidak tampak) atau dosa yang besar. Dosa yang aku lakukan dahulu dan yang akan datang. Dosa yang aku lakukan saat bersama-sama maupun dosa yang aku lakukan saat sendiri."
Di sini saya ingin memberikan sedikit faidah ya. Di sini kita disyariatkan/dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang kita lakukan secara terang-terangan, dengan dosa-dosa yang kita lakukan secara diam-diam.
Lebih besar mana dosa yang dilakukan secara terang-terangan dengan dosa yang dilakukan secara sendiri-sendiri? Pada asalnya dosa yang dilakukan terang-terangan itu lebih besar dosanya.
Dalilnya adalah hadits Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam:
❲ كُلُّ أُمَّةِ مُعَافَةٌ إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ ❳
Semua umatku itu mempunyai potensi untuk dimaafkan dosanya kecuali mereka yang melakukan dosa secara terang-terangan.
Jadi misalnya ada orang yang melakukan mabuk-mabukan, minum-minuman keras, sama-sama minum-minuman keras, dosa besar. Ketika dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, dengan ketika dilakukan secara terang-terangan, maka yang melakukannya secara terang-terangan itu lebih besar dosanya. Kita ketika membandingkan itu harus sama-sama ya. Maksudnya sama-sama itu bagaimana? Sama-sama keadaannya. Jadi, yang terang-terangan tersebut misalnya dia merasa berdosa tapi dia ingin terang-terangan. Yang sembunyi-sembunyi dia merasa berdosa tapi dia lakukan secara sembunyi-sembunyi. Inilah kalau kita membandingkan seperti ini. Ini pembandingan yang adil.
Kalau perbandingannya, yang terang-terangan dia merasa berdosa; yang sendiri-sendiri dia tidak merasa berdosa; sama-sama minum-minuman keras, maka ini perbandingan yang tidak apples to apples, tidak sebanding. Kita tidak adil kalau membandingkan sesuatu yang tidak sama. Kalau sama-sama keadaannya, perasaannya merasa bersalah, tapi yang satu dilakukan secara terang-terangan, yang satu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka yang terang-terangan lebih parah, lebih besar dosanya.
Akan tetapi, dosa ketika sendiri bisa lebih parah, bisa lebih besar, apabila ada tambahan keadaan yang memperburuknya, seperti misalnya menyepelekan dosa itu. Ketika kita sedang sendiri melakukan dosa dan kita sepelekan, itu berarti secara tidak langsung kita menyepelekan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang selalu mengawasi kita. Makanya ini dosanya menjadi sangat besar.
Ada sebuah hadits yang menjelaskan masalah ini. Di hari kiamat nanti akan ada orang yang membawa pahala yang sangat banyak. Dijelaskan dalam hadits tersebut pahalanya sampai sebesar gunung Tihamah. Gunung Tihamah ini gunung yang sangat besar di negeri Yaman. Tapi Allah jadikan hilang sama sekali. Kenapa demikian? Karena orang tersebut ketika bersama dengan yang lain kelihatannya baik, tapi ketika dia sendiri, dia lakukan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kata para ulama ini bukan dosa biasa, tapi karena dia menyepelekan dosa saat sedang sendiri.
Makanya kita harus tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saat sedang sendiri. Ini sangat berbahaya. Bahkan Ibnu Rojab rahimahullahu Ta'ala ketika menafsiri hadits:
( وإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُوْ لِلنَّاسِ وإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ )
"Sungguh ada orang yang kelihatannya selalu melakukan amalan-amalannya ahli surga, tetapi sungguh dia itu jadi ahli neraka."
Ibnu Rajab mengatakan, kenapa demikian? Kata Ibnu Rajab, kata-kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:
[ فِيْمَا يَبْدُوْ لِلنَّاسِ ]
Kelihatannya melakukan amalan-amalan ahli surga, itu berarti yang batin/yang tidak terlihat tidak demikian. Ketika sendiri, dia tidak seperti itu, sehingga menjadikan dia su'ul khotimah dan akhirnya masuk neraka. Na'udzubillahi mindzalik.
Makanya ini menunjukkan betapa berbahayanya maksiat-maksiat yang dilakukan saat sendiri. Jangan kita sepelekan. Jangan menyepelekan kemaksiatan-kemaksiatan yang kita lakukan saat kita sedang sendiri. Bisa jadi itu menjadi sebab su'ul khotimah, -na'udzubillahi min dzalik- sebagaimana dikatakan oleh para ulama.
Oleh karenanya, ketika sedang sendiri takutlah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalaupun akhirnya kita kalah dengan hawa nafsu kita, kita kalah dengan syaitan kita, jangan menyepelekan. Tetaplah merasa berdosa. Sehingga akhirnya kita punya keinginan yang kuat untuk meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, untuk bertobat kepada-Nya.
Makanya di dalam shalat kita, kita pun diperintahkan atau dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk membaca doa yang seperti ini: "Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dosa yang aku lakukan saat bersama, maupun dosa yang aku lakukan saat sendiri."
Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa.
InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
══════ ∴ |GiS| ∴ ══════
Tidak ada komentar:
Posting Komentar